Manusia dengan segala hal yang ada di
sekitarnya merupakan proses berkelanjutan yang belum pernah selesai. Proses
berkelanjutan ini mengandung berbagai persoalan pelik tersendiri yang hingga
saat ini masih tetap aktual untuk dibicarakan. Teka-teki besar, yaitu dari mana
sesungguhnya manusia itu berasal, sedang berada dalam fase kehidupan yang
bagaimana saat ini, hingga kemudian ke mana manusia akan menuju, belum bisa
terjawab seutuhnya dan masih menyisakan berbagai pertanyaan yang harus dicarikan
jawabannya.
Persoalan yang muncul tentang
manusia—tentu manusia sendiri yang memunculkannya—mulai dari persoalan yang
berkaitan dengan struktur yang menyusun eksistensinya, makna eksistensinya,
kebebasan dan keterikatannya dalam mewujudkan eksistensinya di lingkungan
sosialnya, hingga pada persoalan seputar kematian merupakan tabir misteri yang
terus diupayakan penyingkapannya. Manusia bukanlah “probleme” yang akan
habis dipecahkan, melainkan “mystere” yang tak mungkin sifat dan cirinya
dapat disebutkan secara tuntas. Demikian yang diungkapkan oleh Gabriel Marcel
ketika mengemukakan pandangannya tentang manusia.
Sebagaimana yang telah dikemukakan
sebelumnya, bahwa salah satu misteri yang melingkupi manusia adalah persoalan
tentang kematian. Perbincangan yang membahas seputar kematian telah banyak
dilakukan, namun belum juga mampu memuaskan manusia untuk menemukan jawaban
atas berbagai persoalan yang diajukan seputar kematian itu. Filsafat sebagai
aktivitas rasional-reflektif juga melakukan kajian tentang persoalan ini. Melalui
cabangnya, Anthropology Metaphisycs atau yang sering dikenal dengan
Filsafat Manusia, bidang ini berusaha menguak tabir misteri kematian yang
melingkupi hidup manusia. Namun kematian masih saja tetap menjadi sebuah
misteri yang belum secara utuh terungkap.
Achmad Charris
Zubair dalam pengantarnya berjudul Refleksi tentang Kematian pada buku Misteri
Kematian Suatu Pendekatan Filosofis menyatakan banyak orang berpendapat
bahwa hidup ini bersifat ironis, karena manusia sebenarnya tidak pernah meminta
agar dia dilahirkan, tetapi begitu dia lahir, mencintai hidup dan kehidupannya,
dia dihadapkan pada realitas yang sangat menyakitkan hatinya. Manusia dihadapkan pada kematiannya, dihadapkan pada batas akhir
hidupnya, yang senang atau tidak senang harus dijalaninya, sebagaimana
kelahirannya sendiri (Leahy, 1998 : ix).
Bila ditelusuri lebih jauh sesungguhnya
kematian merupakan hal yang wajar terjadi dalam kehidupan. Setiap yang bernyawa
pasti akan mengalami dan merasakan kematian, karena mati telah menjadi pasangan
bagi hidup. Tetapi kita memang tidak pernah bisa menentukan sebuah kepastian,
kapan kematian itu akan datang. Kematian datang menghampiri kita bagaikan
seorang pencuri, menyelinap masuk lalu membawa ruh kehidupan kita dengan meninggalkan
jasad tak berdaya (Leahy, 1998 : x). Itulah gambaran yang diberikan oleh Ahmad
Charris Zubair berkenaan dengan ketidakpahaman manusia kapan maut itu akan
menghampirinya.
Kematian, baik dalam situasi normal
maupun tidak normal, tidak pernah gagal untuk menunjukkan taringnya yang bengis
dan siap merobek jaringan kehidupan manusia dengan sewenang-wenang. Kematian
benar-benar merampas segala skala nilai kehidupan yang telah ditata dengan
rapi, serta memporak-porandakan semua rencana hidup yang disusun oleh manusia
menjadi suatu bangunan yang megah dan indah. Manusia selalu merasa datangnya
kematian itu terlalu cepat. Kesempatan untuk menyelesaikan segala rencana yang
ada dirampok oleh kematian yang tidak kenal kompromi. Belum puas rasanya
mengukir kehidupan ini. Belum sempat rasanya menikmati kehidupan dengan
orang-orang yang kita cintai. Kematian segera datang menjemput, tidak pernah
sabar menunggu barang semenit atau sedetik pun.
Kematian sering identik dengan tragedi
yang membawa banyak kesedihan bagi yang ditinggalkan. Tentu saja kesedihan akan
terasa semakin mendalam bila kematian itu menimpa orang-orang terdekat kita,
yang kita cintai dan kita butuhkan. Ketika itu yang terjadi, banyak di antara
manusia yang tidak sanggup menerima proses kematian itu sebagai konsekuensi
logis dari kehidupan. Kematian memunculkan jarak yang tak terukur dan tak
terbatas antara yang masih hidup dengan yang telah mati. Meskipun demikian,
pada akhirnya semua manusia harus dengan rela menerima datangnya kematian
sebagai suatu ketentuan “nasib” yang tak terelakkan.
Fenomena kematian bukanlah hal yang asing
di tengah eksistensi manusia. Kendati demikian, hal itu tidak memberikan
jawaban apa pun atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam diri manusia
ketika kematian itu disaksikannya. Sehingga meskipun fenomena kematian itu
bukan hal yang asing bagi manusia, namun tetap memunculkan kecemasan dan
ketakutan dalam dirinya. Sidi Gazalba menyatakan bahwa pertanyaan tentang
kematian merupakan pertanyaan yang muncul dari kesangsian, kesangsian muncul
dari ketidakpastian, ketidakpastian menimbulkan kegelisahan dan pada akhirnya
kegelisahan akan membawa manusia kepada kecemasan dan ketakutan (Gazalba, 1967
: 25).
Hingga saat ini, kebanyakan kesadaran
yang dimiliki manusia tentang kematian masih berupa ketakutan. Akibatnya, tidak
jarang muncul lontaran yang bernada keberatan bila kematian dijadikan sebagai
bahan kajian. Berpikir tentang kematian atau berdiskusi mengenainya dianggap
sebagai sesuatu yang tidak sehat dan dapat membahayakan keseimbangan
psikologis. Padahal bila kita telusuri On Death and Dying-nya Elisabeth
Kubler-Ross (1998 : 15), dia menyatakan bahwa berpikir tentang kematian dan
mendiskusikannya secara serius justru akan memunculkan kebijaksanaan kolektif
umat manusia baik dari segi psikologis maupun spiritual. Senada dengan hal itu,
filsuf Miguel de Unamuno mengatakan bahwa kesadaran akan kematian membawa
manusia dan individu-individu menjadi matang secara spiritual.
Kematian bagi manusia sesungguhnya bukan
sebagai kehancuran yang tiada bermakna. Kematian justru berfungsi sebagai
mediator bagi suatu proses transendensi diri manusia itu sendiri. Menarik apa
yang dituliskan dalam Majalah Basis, tahun ke-51, bulan
September-Oktober (2002 : 65) berkenaan dengan misteri kematian Marilyn Monroe.
Majalah tersebut menegaskan bahwa Marilyn Monroe tidak pernah ingin mati,
tetapi tekadnya untuk mati makin bulat ketika hidupnya semakin gemerlap.
Marilyn Monroe didapati mati ketika dia sedang memperoleh segala yang ingin
diperolehnya. Adakah hidupnya hanya kesia-siaan? Adakah kematiannya yang tragis
hanyalah akhir dari kesia-siaan hidupnya? Jawaban atas pertanyaan itu bisa saja
mungkin. Namun, di atas semua itu, kematiannya adalah tragedi yang
mengungkapkan bahwa hidup ini akhirnya hanyalah “mampir ngombe”. Dengan segala
kemegahan dan kesuksesannya, dia memaksa dirinya untuk berjalan di luar rel
realisme hidup yang hanya “mampir ngombe” itu. Akibatnya dia terpelanting dari
hidup ini, dan mati dengan amat tragis.
Lalu, berakhirkah seluruh riwayat Marilyn
Monroe? Ternyata tidak. Kematian yang dialaminya justru membuat hidupnya tak
pernah berakhir. Hidup yang dia peroleh tidak meniadakan kehebatannya, malah
makin meningkatkan dan memperpanjang kehebatannya itu. Kematiannya selalu
dibicarakan orang, segala prestasi yang pernah dicapainya senantiasa diingat
orang, kepopulerannya tak pernah lepas dari perbincangan orang, baik dan buruk
sisi kehidupan yang telah dijalaninya menjadi sorotan orang. Dengan
kematiannya, eksistensinya seakan diperpanjang sampai ke titik yang tak pernah
berakhir. Inilah proses transendensi diri yang dialaminya.
Pengertian dan pemahaman seputar kematian
yang ditanggapi semata-mata sebagai peristiwa yang menakutkan dan mengancam
eksistensi manusia seyogyanya perlu diluruskan. Ibn Miskawaih menyatakan bahwa
sesungguhnya ketakutan akan kematian itu hanya ada pada diri orang yang tidak
memahami hakikat kematian itu, atau tidak tahu ke mana tujuan dirinya setelah
mati. Dia juga mengatakan boleh jadi juga karena orang itu menyangka bila
jasmaninya telah rusak, maka dirinya pun akan hilang pula. Kemungkinan lain,
orang mengira bahwa alam ini akan terus lestari sementara dirinya telah musnah.
Padahal diri dan jiwa itu kekal, kemudian kembali kepada Allah. Rasa takut
kepada maut juga menghinggapi orang yang menyangka bahwa kematian itu
menyebabkan rasa sakit yang tak terperikan, atau pada orang yang merasa bahwa
setelah mati akan menerima siksa, atau pada orang yang merasa sedih bila
berpisah dengan harta dan kesenangan duniawi (Miskawaih, 1994 : 185).
Bila diperhatikan penjelasan yang
disampaikan oleh Ibn Miskawaih tersebut, kecemasan dan ketakutan akan kematian
itu muncul sebagai akibat dari pemahaman yang disandarkan pada pola pikir kaum
materialis. Kebanyakan manusia, alam pikirannya telah didominasi oleh corak
berpikir ini, sehingga segala hal yang terjadi diukur secara materi. Louis
Leahy (1991 : 66) mengutip pendapat Pascal yang menyatakan bahwa karena umat
manusia tidak berhasil mengatasi kematian, kesengsaraan dan ketidaktahuan, maka
mereka memutuskan untuk tidak memikirkan tentangnya. Mereka menyerah pada
tataran fenomena kematian itu saja dan tidak bersedia untuk berbicara lebih
luas lagi mengenainya sekalipun dalam benak mereka tersisa kecemasan dan
ketakutan. Materialisme berpandangan bahwa seluruh realitas adalah materi atau
dapat direduksi pada materi sehingga memunculkan pemikiran skeptis seputar
kemungkinan hidup sesudah mati atau tidak adanya unsur immaterial yang
bertahan. Kematian manusia tidak lebih dari sekedar proses hancurnya struktur
atom manusia, peleburan serta penyebaran unsur-unsur atom itu.
Pembuktian akan adanya hidup setelah mati
bukan suatu pekerjaan yang mudah. Hukum-hukum berpikir rasional tidak akan
dapat memverifikasi bagaimana kondisi alam kehidupan setelah mati, apa yang
terjadi di sana
dan sampai kapan itu akan berlangsung. Tetapi hal itu bukan berarti lantas
meniadakan adanya hidup setelah mati. Bila dimensi rasio tidak mampu untuk
memahaminya, sudah sepantasnya membangun pemahaman akan kematian itu dari
dimensi ruhani. Lewat dimensi ruhani ini, maka pemahaman akan
kematian—sebagaimana yang ditulis oleh Arif Widodo dalam kesimpulan skripsinya
berjudul Laku Icip Pati Sebagai Langkah Metodis untuk Mencapai Derajat
Kemulyaan Hidup (1995)—bukan lagi sebatas kejadian “pasif”, namun sampai
kepada pemahaman akan kematian “aktif”. Dengan demikian pengetahuan yang
didapatkannya adalah pengetahuan yang bersangkutan langsung dengan wilayah
pengetahuan Allah.
Pengetahuan dan pemahaman tentang
kematian yang semacam ini, tidak lagi menyisakan kecemasan dan ketakutan,
melainkan memunculkan kerinduan untuk segera bertemu dengan kematian itu.
Sebab, kematian akan membawa manusia kepada jatidirinya.
Pengetahuan tentang kematian yang
disertai dengan sentuhan ruhani, mengubah image kematian yang penuh
dengan kegelapan dan ketersesatan menjadi suasana yang dirindukan penuh
kesyahduan. Karena alam kematian mengantarkan manusia kepada asal mula kodrat
manusia itu sendiri.
Demikian pula yang dirasakan oleh Syekh
Siti Jenar tentang kematian. Tetapi apa yang dimaknai oleh Syekh Siti Jenar
tentang kematian, sangat berbeda dengan pemahaman umum yang selama ini muncul
di tengah kehidupan manusia. Bagi Syekh Siti Jenar, kematian bukanlah sesuatu
yang akan terjadi setelah kehidupan di dunia, tetapi di dunia inilah kematian
manusia itu terjadi.
Menurutnya, justru dunia ini yang menjadi
alam kematian. Manusia yang ada di dunia seluruhnya dalam kondisi mati, seluruh
manusia yang ada di dunia ini adalah bangkai, termasuk dirinya sendiri.
Kesengsaraan, kebingungan, panas-dingin, kerisauan dan kesedihan merupakan
gambaran bila manusia mengalami neraka. Hal itu berbeda dengan kehidupan
manusia di alam nyata, nanti sesudah ajal tiba. Di sana manusia akan hidup mulia, mandiri dengan
diri pribadi tanpa memerlukan ayah dan ibu, berbuat menurut keinginan sendiri,
tiada berasal dari angin, air, tanah, api dan tiada berasal dari semua yang
berjasad.
Pandangannya tentang kematian sungguh
sangat kontroversial. Lewat pandangannya itu, secara tidak langsung bila
ditafsirkan sesuai konteks kehidupan manusia modern sekarang ini memunculkan
kritik yang tajam terhadap pola pemahaman tentang kehidupan dari kaum
materialis. Di sinilah daya tarik tersendiri bagi penulis untuk mengangkat Siti
Jenar sebagai tokoh sentral dalam buku ini.
No comments:
Post a Comment